logoSibia

#Tazkiyatun Nafs

Keimanan dan Akhlak Tak Terpisahkan: Fondasi Utama Pendidikan Karakter Sejak Usia Belia

Keimanan dan Akhlak Tak Terpisahkan: Fondasi Utama Pendidikan Karakter Sejak Usia Belia

by Ibnu Abbas BSD on

TANGERANG SELATAN (Juni 2026) — Keimanan dan akhlak adalah dua hal yang saling berkaitan erat serta tidak dapat dipisahkan. Hal ini dikarenakan akhlak di dalam Islam sejatinya terdiri dari unsur-unsur keimanan, serta keimanan yang benar dan kokoh pasti akan membuahkan akhlak yang mulia.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keterkaitan yang sangat kuat antara keduanya:

حدثنا عمر بن موسى السامي، حدثنا أبو هلال، عن قتادة، عن أنس، قال: ما خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم خطبة , إلا قال في خطبته , لا إيمان لمن لا أمانة له، ولا دين لمن لا عهد له

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu beliau berkata, ”Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami, melainkan sering mengulang perkataannya, beliau bersabda: ‘Tidak ada iman yang sempurna bagi yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak menepati perjanjian.’” (H.R. Al-Bazzâr)

Tolak Ukur Keimanan Seseorang

Di dalam banyak hadis lainnya, Rasulullah juga senantiasa mengaitkan keimanan kepada Allah dan Hari Akhir dengan perilaku serta akhlak-akhlak terpuji, sebagaimana sabda beliau:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tamunya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata yang baik atau diam.” (H.R. Al-Bukhâri)

Unsur-Unsur Akhlak Mulia Menurut Ibnu Taimiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa akhlak yang mulia setidaknya mencakup unsur-unsur fundamental berikut ini:

  1. Keimanan kepada Allah sebagai Al-Khaliq (Sang Pencipta), pemberi rizki, dan pengatur alam semesta satu-satunya yang memiliki nama-nama yang baik serta sifat-sifat mulia.
  2. Mengenal Allah serta mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah.
  3. Mencintai Allah dengan segenap perasaan cinta sehingga tidak ada yang dicintai dan dituju selain Allah ataupun hal yang dianggap lebih besar dari Allah. Kecintaan inilah yang menghantarkan seluruh pemikiran dan perbuatan bermuara hanya kepada-Nya.
  4. Meninggalkan keinginan yang buruk dan hal-hal yang bernilai rendah (hina).

Urgensi Pendidikan Sedari Dini

Penanaman iman dan akhlak merupakan tujuan paripurna dalam proses pendidikan kepada peserta didik yang harus dimulai semenjak usia belia. Dengan pendidikan akhlak yang baik, seorang anak niscaya akan mendapatkan masa depan yang cerah dan berkah. Kebutuhan terhadap pendidikan iman dan akhlak sangatlah urgen karena pengaruhnya akan berdampak langsung pada kualitas individu dan masyarakat. Oleh karena itu, sejak fase awal pertumbuhan anak, pendidikan iman dan akhlak wajib mendapat perhatian serius, baik dari orang tua maupun tenaga pendidik di sekolah.

Mayoritas penyimpangan akhlak yang terjadi di tengah masyarakat disebabkan oleh tidak terbentuknya dasar keimanan dan akhlak melalui proses pendidikan sedari kecil. Meskipun tidak mustahil untuk merubah akhlak yang buruk ketika seseorang telah menginjak usia dewasa, akan tetapi hal itu menjadi sangat sulit dan terjal ketika sejak kecil sudah tertanam perilaku-perilaku yang buruk.

Ulama besar Ibnu Qayyim rahimahullah menegaskan sebuah prinsip penting: Anak kecil wajib dijauhkan dari mendengarkan perkara-perkara buruk dan kotor. Sebab, jika hal-hal tercela tersebut telah tersangkut dan membekas pada pendengarannya, maka kelak akan menjadi sangat sulit baginya untuk meninggalkan kebiasaan itu, dan semakin sulit pula bagi orang tuanya untuk meluruskannya.

Ibnu Abbas BSD

Ibnu Abbas BSD

IBNU ABBAS BSD - adalah lembaga pendidikan Islam non profit yang fokus pada pembelajaran Al-Qur'an, bahasa Arab dan Sains.

InstagramYouTubeFacebookWhatsAppSpotify