#Tazkiyatun Nafs
Keutamaan Malam Nisfu Sya'ban: Momen Mustajabnya Doa dan Luasnya Ampunan Ilahi

by Ibnu Abbas BSD on
TANGERANG SELATAN (Juni 2026) — Dalam kalender Hijriah, bulan Sya'ban memiliki kedudukan yang sangat istimewa sebagai gerbang pembuka menuju bulan suci Ramadan. Di pertengahan bulan ini, terdapat satu malam yang penuh keberkahan, yakni Malam Nisfu Sya'ban. Malam ini dikenal luas oleh umat Islam sebagai salah satu waktu di mana pintu-pintu langit terbuka lebar untuk mengabulkan doa (mustajab) dan mencurahkan ampunan.
Lima Malam Mustajabnya Doa
Keistimewaan malam Nisfu Sya'ban sebagai malam terkabulnya doa telah banyak dibahas oleh para ulama salaf. Salah satunya diriwayatkan oleh Imam Syafi'i rahimahullah di dalam kitab monumentalnya, Al-Umm. Beliau menyebutkan bahwa ada lima malam khusus di mana doa seorang hamba tidak akan tertolak.
خَمْسُ لَيالٍ لا تُرَدُّ فِيهِنَّ الدَّعْوَةُ أوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبانَ وَلَيْلَةُ الجُمُعَةِ وَلَيْلَةُ الفِطْرِ وَلَيْلَةُ النَّحْرِ
“Ada lima malam yang doa tidak akan ditolak pada malam-malam itu, yaitu: malam pertama di bulan Rajab, malam pertengahan di bulan Sya’ban (Nisfu Sya'ban), malam Jum’at, malam (Idul) Fitri, dan malam Idul Adha.”
Penjelasan ini memberikan isyarat kuat bagi setiap muslim untuk senantiasa menghidupkan malam-malam tersebut, khususnya malam Nisfu Sya'ban, dengan memperbanyak munajat, istighfar, dan doa-doa kebaikan.
Malam Turunnya Ampunan, Kecuali bagi Dua Golongan
Selain menjadi waktu yang mustajab untuk berdoa, malam Nisfu Sya'ban juga menjadi momentum turunnya rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala secara menyeluruh kepada makhluk-Nya. Hal ini dilandaskan pada sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk (Nya) kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan (mendendam).”
Kedudukan dan Kesahihan Hadis
Mengenai status dan derajat hadis tersebut, para ulama ahli hadis telah melakukan penelitian yang mendalam. Al-Hafizh Al-Mundziri dalam kitabnya At-Targhib wat Tarhib memberikan penjelasan yang menguatkan kehujahan riwayat ini.
Setelah menyebutkan hadis di atas, Al-Mundziri memaparkan, “Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadis dengan lafaz yang sama dari hadis Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan riwayat yang semisal dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa (hasan).”
Dengan demikian, malam Nisfu Sya'ban sejatinya adalah kesempatan emas bagi setiap mukmin untuk membersihkan tauhid dari segala bentuk kesyirikan (musyrik), serta membersihkan hati dari segala bentuk kedengkian, dendam, dan permusuhan sesama muslim (musyahin). Hanya dengan hati yang bersih (qalbun salim), seorang hamba dapat meraih luasnya ampunan Ilahi pada malam yang mulia tersebut.
