#Tazkiyatun Nafs
Membentuk Akhlak Mulia Peserta Didik: Keteladanan dan Pembiasaan Sebagai Fondasi Utama Pendidikan

by Ibnu Abbas BSD on
TANGERANG SELATAN (Juni 2026) — Setiap pendidik, baik itu orang tua di rumah maupun guru di sekolah, pasti menginginkan anaknya atau peserta didik memiliki kebiasaan akhlak mulia. Internalisasi akhlak karimah pada anak memerlukan beragam metode. Di antara usluub (metode) yang paling efektif dan fundamental adalah memberikan contoh (uswah) serta melakukan pembiasaan.
Qudwah Hasanah (Keteladanan yang Baik)
Salah satu aspek terpenting dalam mewujudkan integrasi iman, ilmu, dan akhlak adalah adanya figur utama yang menunjang keberhasilan pendidikan karakter. Keteladanan merupakan metode yang jauh lebih efektif karena peserta didik pada umumnya memiliki kecenderungan meniru pendidiknya. Metode ini sangat ampuh untuk menanamkan nilai-nilai iman dan akhlak, sebab pendidik senantiasa menjadi panutan bagi peserta didik dalam segala hal.
Para pendidik dituntut untuk memiliki kepribadian dan intelektualitas yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam, sehingga konsep pendidikan yang diajarkan dapat langsung diterjemahkan secara nyata melalui perilaku diri para pendidik. Di dalam Al-Qur'an, kata uswah (teladan) disebutkan sebanyak tiga kali, yakni pada Surah Al-Ahzab ayat 21, dan Surah Al-Mumtahanah ayat 4 serta 6. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)
Mengenai pentingnya metode keteladanan dalam pendidikan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak mencontohkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam kondisi peperangan yang genting sekalipun, beliau tidak hanya bertindak sebagai komandan yang berdiam diri memberi instruksi. Namun, beliau turut aktif turun langsung, seperti dalam peristiwa menggali parit dan mengangkat batu.
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ البَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الأَحْزَابِ يَنْقُلُ التُّرَابَ، وَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ
Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tanah pada hari persiapan perang Khandaq hingga tanah tadi mengenai (menutupi) putih perutnya.” (H.R. Al-Bukhari)
Metode keteladanan setidaknya memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, mudah; peserta didik lebih cepat melihat kemudian melakukan daripada sekadar menyerap instruksi verbal. Kedua, minim kesalahan; karena peserta didik langsung mencontoh praktik nyatanya. Ketiga, lebih dalam pengaruhnya; keteladanan lebih berkesan dan membekas di dalam hati manusia dibandingkan hanya sekadar pemaparan teori.
Pembiasaan dalam Pendidikan
Kebiasaan menduduki kedudukan yang sangat istimewa di dalam kehidupan manusia. Islam menggunakan pembiasaan sebagai salah satu metode pendidikan utama. Harapannya, sifat dan karakter baik tersebut secara perlahan mengkristal menjadi kebiasaan, sehingga ketika peserta didik atau anak melakukan hal tersebut, mereka tidak lagi merasa payah dan tidak menemukan banyak kesulitan.
Proses pendidikan yang terkait dengan perubahan perilaku, apabila tanpa diikuti dan didukung oleh adanya praktik serta pembiasaan diri secara konsisten, maka pendidikan itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Pembiasaan dalam sebuah proses pendidikan sangatlah dibutuhkan.
Rasulullah mengajarkan akhlak dan menanamkan pola berpikir melalui dorongan untuk melakukannya secara berulang-ulang. Metode pembiasaan dalam pendidikan Islam ini sangatlah urgen. Betapa banyak ajaran-ajaran Islam akan terasa begitu ringan dan mudah ketika sudah dibiasakan sejak usia dini.
Sebagai contoh, sholat lima waktu tidak akan terasa berat bagi seorang anak ketika pembiasaannya sudah dimunculkan sejak mereka berusia tujuh tahun. Demikian halnya dengan puasa, serta bacaan dzikir dan doa harian yang akan sangat mudah dilupakan apabila tidak dibiasakan dalam rutinitas sehari-hari.
Di dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga terdapat banyak model pembiasaan dalam melaksanakan pendidikan akhlak harian. Salah satu contohnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Apabila kalian berwudhu, maka mulailah dengan anggota badan yang kanan.”
Referensi & Catatan Kaki:
- Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Depok: Rajagrafindo Persada, 2014), h. 140.
- Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun (Bandung: Al-Ma’arif, 1993), h. 325.
- Anung Al-Hamat, Tarbiyah Jihadiyah Imam Bukhari, (Jakarta: Ummul Qura, 2016), h. 320.
- Al-Bukhari, Shahih Bukhari, 4/26.
- Muhammad Abu Fath Al-Bayanuni, Al-Madkhal ilâ 'Ilm Ad-Da’wah, (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1991), h. 271.
- Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1993), h. 325.
- Khalifatul Ulyaa, Pelaksanaan Metode Pembiasaan di Pendidikan Anak Usia Dini, (Asatiza, Jurnal Pendidikan, 2022) Vol 1, h. 51.
- Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Depok: Rajagrafindo Persada, 2014), h. 138.
