#Tazkiyatun Nafs
Mendidik dengan Kisah: Kekuatan Metode Bercerita dalam Menanamkan Akhlak Al-Qur'an

by Ibnu Abbas BSD on
TANGERANG SELATAN (Juni 2026) — Pendidikan melalui cerita adalah penyajian materi pembelajaran dengan menceritakan kejadian-kejadian masa lampau, baik yang berkaitan dengan ketaatan-ketaatan yang mesti diteladani maupun kemungkaran untuk dijauhi dan ditinggalkan, yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan pelajaran kepada para sahabat seringkali menggunakan metode cerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan dan kejadian-kejadian masa lalu. Penggunaan metode ini dianggap akan lebih membekas dalam jiwa orang-orang yang mendengarkannya serta mampu menarik perhatian mereka secara penuh.
Kisah Sebagai Peneguh Hati
Allah Subhanahu wa Ta'ala sesungguhnya telah mengenalkan metode pembelajaran seperti ini kepada Rasulullah, sebagaimana firman-Nya yang termaktub di dalam Al-Qur’an:
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Hud [11]: 120).
Di antara cerita sarat hikmah yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an adalah kisah Luqman Al-Hakim saat mendidik putranya:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (Q.S. Luqman [31]: 13).
Dalam ayat lainnya, Allah juga menceritakan keteladanan para Nabi dalam mewariskan tauhid kepada anak-anaknya:
وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'" (Q.S. Al-Baqarah [2]: 132).
Efektivitas Psikologis Metode Kisah
Metode bercerita sangat efektif, terlebih lagi bila sasarannya adalah anak didik yang masih dalam masa perkembangan. Dengan mendengarkan suatu cerita, kepekaan jiwa dan perasaan anak akan tergugah. Di samping itu, menurut Muhammad Quthb, penyampaian nilai melalui cerita kepada peserta didik usia pendidikan dasar mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan dan memiliki pengaruh kuat terhadap jiwa anak, asalkan dengan cermat memilih cerita yang sesuai dengan taraf perkembangan jiwa mereka.
Terlebih lagi dalam pembelajaran akhlak. Pendidikan akhlak melalui Al-Qur’an banyak disampaikan melalui narasi kisah-kisah yang tertuang di dalamnya. Menurut pakar pendidikan Islam, Abdurrahman An-Nahlawy, metode kisah dalam Al-Qur’an berefek sangat positif pada perubahan sikap serta perbaikan niat atau motivasi seseorang.
Adapun sebab-sebab mengapa kisah Al-Qur'an dapat memberikan efek perbaikan karakter pada jiwa manusia, antara lain:
- Konsistensi Nasihat: Kisah dalam Al-Qur’an memberikan pengaruh dan nasihat yang mengalir utuh sejak awal hingga akhir cerita.
- Interaksi Jiwa: Membaca kisah Al-Qur’an pada hakikatnya adalah sebuah bentuk interaksi atau komunikasi langsung pada relung jiwa manusia.
- Relevansi Kehidupan: Kisah dalam Al-Qur’an bukan merupakan hal asing dalam realitas kehidupan, karena kisah-kisah ini seringkali merupakan solusi presisi bagi masalah-masalah kontemporer yang sedang dihadapi.
- Pembangkit Keimanan: Kisah Al-Qur’an secara natural membangkitkan rasa religiusitas manusia karena di desain untuk senantiasa meningkatkan keimanan kepada Sang Pencipta.
- Pendekatan Rasional: Kisah dalam Al-Qur’an mengajak pembacanya berdialog dan memberikan jawaban terhadap logika-logika manusia secara ilmiah, karena dalam kisah-kisah tersebut Allah senantiasa mengajak manusia untuk selalu menggunakan akal (berpikir).
Referensi & Catatan Kaki:
- Syahraini Tambak, “Metode Bercerita dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, dalam Jurnal Al-Thariqah, Vol. 1 No. 1 Juni 2016, h. 6-8.
- Abdul Fattah Abu Ghuddah, Ar-Rasuul Al-Mu’allim, (Beirut: Dar Al-Basyair, 1996), h. 194.
- Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun (Bandung: Al-Ma’arif, 1993), h. 325.
- Abdurrahman An-Nahlawy, Ushul At-Tarbiyah Al-Islamiyyah wa Asâlîbuhâ, (Damaskus: Dar- Al-Fikr, 2008), cet. ke 26, h. 189.
- Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Depok: Rajagrafindo Persada, 2014), h. 114.
